Dua puluh sembilan Juli dua ribu sembilan belas. Ketika aku harus mengambil keputusan yang begitu mematikan bagi kaum pria, terlebih untuk aku.
Aku sendiri bingung, apakah ini akhir dari kehidupan cintaku, ataukah awal darinya.
Saat aku harus memikirkan, menulis, dan membacakan langsung, surat pernyataan menceraikan istri.
Setelah berkutat dengan pertahanan dan adu argumen tentang keluhan dan isi hati istriku, aku harus mengakhiri kisah cinta di biduk rumah tangga ku.
Kamu jahat. Membiarkan aku terseok berdiri menanti disini, sementara kamu dengan santainya - tanpa merasa berdosa, mengkhianati aku dengan menginapkan lelaki lain dirumahmu.
Aku sendiri bingung, apakah ini akhir dari kehidupan cintaku, ataukah awal darinya.
Saat aku harus memikirkan, menulis, dan membacakan langsung, surat pernyataan menceraikan istri.
Setelah berkutat dengan pertahanan dan adu argumen tentang keluhan dan isi hati istriku, aku harus mengakhiri kisah cinta di biduk rumah tangga ku.
Kamu jahat. Membiarkan aku terseok berdiri menanti disini, sementara kamu dengan santainya - tanpa merasa berdosa, mengkhianati aku dengan menginapkan lelaki lain dirumahmu.
Aku sempat move on dan melepas dia selama sebulan terakhir sebelum Lebaran ini. Dan, mungkin salahku, mengapa aku harus merasa kamu beri harapan. Atau memang kamu itu si PHP?
Sebulan aku menanti sebuah jawaban darimu, lanjut ataukah tidak.
Dan dengan cerdikku, aku menyusun rencana untuk mengetahui langsung fakta bahwa kamu sudah nyata berkhianat asmara dibelakangku.
Cukup dua kali dua jam dalam dua hari aku berhasil menguak semua kebohonganmu. Kamu, yang bilang bahwa dia tidak tahu dimana rumahmu, hari itu aku tahu kalau dia sudah sering bermalam bersamamu, tidur denganmu, selama dua malam dua hari dalam satu kesempatan.
Sadis.
Kamu tak akan bisa bersembunyi dari kelicikan strategimu.
Aku tahu, mungkin kamu hanya bersandiwara dengan semua ini. Tapi langkahmu dengan membuka pintu untuk lelaki lain, itu sebuah kebodohanmu.
Sekali ini saja aku menulis tentangmu. Selanjutnya, kamu itu sampah, bajingan dimataku. Seberapa kalimat yang akan meluncur dari mulutmu, untuk mencari pembenaran atas perilakumu, aku gak akan peduli lagi. Karena, kamu pun akan selalu merasa benar, dan aku selalu salah.
Kini...
Aku harus menatap masa depanku. Dan inilah awal dari kehidupanku seutuhnya. Kehidupan di angka empat puluh yang kuharapkan akan menjadi usia kematanganku secara lahir dan batin. Jasmani dan rohani.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar