Selasa, 29 Oktober 2019

Di Saat Aku Tersakiti

Di Saat Aku Tersakiti.

Lagu ini, awalnya aku nikmati dengan hati yang panas, penuh amarah. Dendam kesumat....

Bukan karena lagunya...
Bukan karena band-nya...

Tapi lebih kepada orang yang mengenalkan aku pada lagu ini. Seakan dia berpesan penuh sindiran, bahwa beginilah...seperti lirik lagu inilah, seharusnya aku.

Udah hafal kan, liriknya?

Udah, abaikan liriknya. Dan , akhirnya...dengan kemampuan yang ada, aku nikmati juga lagu ini.

Mulai dari vokalnya. Videografinya.

Kreasi saja...
Aku gak bilang ini komersil, ya. Jadi, kalau masih ada yang mempermasalahkan soal hak cipta...
Baca baik² deh....

Oke....
Selamat menikmati....



Selasa, 22 Oktober 2019

Tatap Masa Depan yang Gemilang

Mulai hari dengan sarapan.


Gak aneh dengan ungkapan tersebut diatas?
Ya, itu dipakai sebagian netizen untuk menyindir netizen lain yang menulis "Awali hari dengan senyuman".

Belum juga tengah hari, pastinya perut akan bernyanyi, keroncongan. Tanda apa? Tanda kelaparan.

Gak salah dengan senyuman yang harus tersungging di awal hari yang tersisa. Karena senyum itu simbol optimisme kita didalam menjalani kehidupan ini.
Dan,
Menjelang 2020, kita harus selalu percaya dan yakin, bahwa cerita masa itu akan cerah, tak sekelam masa lalu.

Yakin saja lah, setelah diterpa cerita hidup yang begitu suram, kita akan menemui kisah bahagia.
Bukan sekedar penghibur diri dikala sendu melanda, tapi lebih kepada mindset yang harus kita tanamkan dalam diri kita.



Kamis, 15 Agustus 2019

Awal ataukah akhir kehidupanku.

Dua puluh sembilan Juli dua ribu sembilan belas. Ketika aku harus mengambil keputusan yang begitu mematikan bagi kaum pria, terlebih untuk aku.

Aku sendiri bingung, apakah ini akhir dari kehidupan cintaku, ataukah awal darinya.

Saat aku harus memikirkan, menulis, dan membacakan langsung, surat pernyataan menceraikan istri.

Setelah berkutat dengan pertahanan dan adu argumen tentang keluhan dan isi hati istriku, aku harus mengakhiri kisah cinta di biduk rumah tangga ku.

Kamu jahat. Membiarkan aku terseok berdiri menanti disini, sementara kamu dengan santainya - tanpa merasa berdosa, mengkhianati aku dengan menginapkan lelaki lain dirumahmu.

Aku sempat move on dan melepas dia selama sebulan terakhir sebelum Lebaran ini. Dan, mungkin salahku, mengapa aku harus merasa kamu beri harapan. Atau memang kamu itu si PHP?

Sebulan aku menanti sebuah jawaban darimu, lanjut ataukah tidak.
Dan dengan cerdikku, aku menyusun rencana untuk mengetahui langsung fakta bahwa kamu sudah nyata berkhianat asmara dibelakangku.

Cukup dua kali dua jam dalam dua hari aku berhasil menguak semua kebohonganmu. Kamu, yang bilang bahwa dia tidak tahu dimana rumahmu, hari itu aku tahu kalau dia sudah sering bermalam bersamamu, tidur denganmu, selama dua malam dua hari dalam satu kesempatan.

Sadis.
Kamu tak akan bisa bersembunyi dari kelicikan strategimu.

Aku tahu, mungkin kamu hanya bersandiwara dengan semua ini. Tapi langkahmu dengan membuka pintu untuk lelaki lain, itu sebuah kebodohanmu.

Sekali ini saja aku menulis tentangmu. Selanjutnya, kamu itu sampah, bajingan dimataku. Seberapa kalimat yang akan meluncur dari mulutmu, untuk mencari pembenaran atas perilakumu, aku gak akan peduli lagi. Karena, kamu pun akan selalu merasa benar, dan aku selalu salah.

Kini...
Aku harus menatap masa depanku. Dan inilah awal dari kehidupanku seutuhnya. Kehidupan di angka empat puluh yang kuharapkan akan menjadi usia kematanganku secara lahir dan batin. Jasmani dan rohani.

Ini favoritku. Mana favoritmu?

Di Saat Aku Tersakiti

Di Saat Aku Tersakiti. Lagu ini, awalnya aku nikmati dengan hati yang panas, penuh amarah. Dendam kesumat.... Bukan karena lagunya...